Tentang beberes (3)

Standard

Jadi, bagaimana hasil proyek beberes rumah yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan itu?

Singkatnya, tentu saja wajah rumah berubah. Rumah menjadi luas, lega, dan menyenangkan untuk ditinggali. Semua barang yang ada di rumah sekarang adalah barang2 pilihan kami semua. Walaupun berat berpisah dengan banyak barang milik mamapapa, kami mengucapkan terima kasih atas jasa2 mereka selama ini. Semoga mereka mendapatkan rumah dan pemilik baru yang akan memanfaatkan mereka semaksimal mungkin. Semoga mereka menemukan cinta di tempat yang baru.

Berikut beberapa foto yang menunjukkan perubahan drastis beberapa ruangan di rumah kami.  

Read the rest of this entry

Tentang beberes (2)

Standard

Hari ini saya mau bercerita tentang tahapan besar dalam proyek beberes rumah di Bandung. Tapi sebelum itu, saya ingin berbagi info berguna bagi teman-teman yang juga mempertimbangkan untuk beberes rumah skala besar, yaitu bahwa kerjaan beberes rumah kami ini sangat terbantu dengan adanya tim BerGud yang mengawal proses ini dari dari awal.

BerGud, atau Bersih Gudang, adalah kumpulan anak2 muda manis2 dan imut2 yang membantu kami dalam berbagai hal. Kebayang dong kalo hanya saya dan mbak A yang sama2 kecil imut itu ngangkut2 perabotan dan berkardus2 barang selama berminggu2? Tidak hanya dalam hal pengangkutan, mereka juga berperan besar dalam hal pendataan, promosi dan penjualan barang2 layak jual yang keluar dari rumah kami. Yang lebih penting lagi untuk disebutkan adalah support moral mereka untuk proses ini yang melebihi ekspektasi, ditambah lagi network luas mereka yang sangat membantu dalam mendapatkan info2 menarik seputar rumah dan perabotan. Pokonya kalau mau cari apa2, tanya BerGud dulu deh. Enak kan kerja bareng sama yang segala tau? Terima kasih ya, BerGud. Bintang lima untuk kalian! ^^

Kembali kepada cerita beberes, berikut deskripsi tentang tahapan-tahapan yang kami jalani dalam proyek beberes ini. 

Read the rest of this entry

Tentang beberes (1)

Standard

Teman-teman mungkin tau bahwa 3 bulan belakangan ini, saya dan mbak A sibuk melakukan decluttering atau beberes rumah di Bandung. Bagi sebagian orang, beberes mungkin tampak sebagai kegiatan yang sederhana. Namun proses yang kami jalani jauh dari kata sederhana. Dalam seri postingan ini, saya ingin cerita tentang proses tersebut, siapa tau bisa menginspirasi temen2 untuk melakukan hal yang sama.  Oh iya, berhubung belum ketemu terjemahan kata “decluttering” yang representatif terhadap arti yang saya maksud, sekarang pake kata “beberes” dulu ya, walaupun sebenernya yang kami lakukan itu lebih luas daripada sekedar beberes.

Mereka yang pernah main ke rumah Bandung harusnya bisa membayangkan sebesar dan sepenuh apa rumah itu. Buat yang belum pernah, bayangkan rumah dengan luas tanah 400-an m2 yang penuh diisi oleh benda2 yang dimiliki sejak tahun 80an. Yah, kira2nya kalo kita segenerasi, dan ibu2 kita juga segenerasi, bayangin deh rumah keluarga sendiri yang isinya barang2 milik ibu (dan bapak) yang tidak pernah dibuang dari masa kitanya sendiri belum lahir. Penuh, sesak, lembab dan berdebu. Setelah mama berpulang Maret lalu, mandat utama bagi G bersaudara adalah pengelolaan rumah keluarga yang besar dan penuh barang ini. Semua sepakat untuk memulai proyek beberes rumah sesegera mungkin. 

Read the rest of this entry

Gua itu gelap

Standard

Adalah sebuah gua. Yang tercipta dari hati yang terluka. Di dindingnya kutuliskan semua perasaan yang tak pernah sanggup terucap. Di dalamnya kusimpan wadah yang menampung tangis yang tertumpah dalam bisu.

Gua itu gelap. Di dalamnya kunyalakan lilin agar dinginnya menghilang. Agar hangatnya api memenuhi ruangan. Tapi dinginnya menusuk. Hangatnya api tak sanggup menghilangkan dingin itu.

Di dalamnya kusimpan bunga2 cinta yang dulu bermekaran. Kini bunga2 itu layu. Kekurangan cinta dan sentuhan. Kubawa mereka ke dalam gua karena kupikir mereka butuh menyendiri. Agar tumbuh kembali tunasnya yang baru. Namun semua yang kulakukan tidak mampu mempertahankan tunas2 baru yang tumbuh. Ia layu di tengah badai emosi yang berkecamuk di dalam diri.

Dan gua itu semakin lama semakin membesar. Semakin dalam. Semakin gelap. Menghisap sedikit demi sedikit cahaya cinta yang kumiliki untukmu.

Aku takut. Suatu hari cahaya itu akan habis. Membuat aku terperangkap dalam gua penuh lukaku terhadap kita. Bila masa itu datang. Semoga tidak. Tapi bila ia datang. Itulah akhir dari kita.

Kepada: Angin, tanah dan hujan

Standard

Kepada: angin yang berbisik

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika hembusan nafas terakhir membawa jiwanya ke alam yang tak terjamah. Dia menjadi kekal sepertimu. Menjadi suara penyejuk di kala jiwa sedang resah. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: tanah yang berdiam

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika raganya terkubur di antara ramainya ilalang dan akar pohon. Dia menjadi kokoh sepertimu. Menjadi topangan keyakinan di kala jiwa sedang gundah. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: hujan yang mengguyur

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika butiran gerimis hari ini membentuk jelas air matanya yang selalu menetes di tiap perpisahan. Dia mengalir seperti dirimu. Menjadi alunan doa yang terbersit di kala jiwa sedang gulana. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: angin, tanah, dan hujan

Aku tahu kalian adalah dirinya. Ketika ia hadir dalam setiap arah yang kupandang. Ketika tak putus rasa syukur mengingat pertemuan dengannya. Aku tahu kini dia dalam damai yang abadi. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Sesungguhnya kita adalah milik-Nya dan kepadaNya kita akan kembali.

#Singapore, 29 March 2017. Untuk mama. (dan papa. dan papake.)

Saya dan Efek Konmari

Standard

Sudah beberapa bulan belakangan saya berniat berbagi cerita tentang Konmari. Tepatnya setelah saya mempraktekkan apa yang diajarkan Marie Kondo, si ibu penemu metoda decluttering atau bebersih, ini sekitar 6 bulan lalu. Awalnya berjudul coba-coba, walau jauh di lubuk hati yang paling dalam, pertama mendengar tentang buku dan review isinya dari sahabat tercinta sekitar 2 tahun lalu, saya sudah langsung tau bahwa ini akan menjadi salah satu ‘kitab’ bebersih saya. Lah wong kata saktinya adalah “spark joy”, alias membuat bahagia. Dan siapa pun yang mengenal saya tentu tau bahwa bahagia adalah salah satu filosofi hidup saya. Tapi sampai 6 bulan yang lalu, saya masih terlalu takut untuk membaca buku itu. Takut terlalu menggebu-gebu dan tidak bisa fokus mengerjakan yang lain. Untuk buku yang seperti ini, saya selalu menunggu momen yang pas. Karena, setiap buku yang spesial perlu waktu khusus dan persiapan energi yang cukup banyak untuk meresapi maknanya. Waktunya datang di bulan September, ketika saya memutuskan untuk rehat dari dunia pekerjaan. Coba-coba ini ternyata berakhir dengan menjadi pengikut taat.

Read the rest of this entry