Fall Apart Today – Schuyler Fisk

Standard

I don’t want us to fall apart today or ever. You’re the one who said you’d never leave. There’s no good reason for giving up. And all this mess is just bad luck. So please don’t lose your confidence in me.

I wish I wasn’t so fragile ’cause I know that I’m not easy to handle.

Oh baby please, don’t forget you love me. Don’t forget you love me today.

I don’t wanna feel like this but I’m so tired of missing you. I don’t wanna beg for your time. I want you mine, all mine.

I bet you smile when you think of me. You love me, messy in the morning, freckles on my knees.Oh baby please…

Oh baby, sweet baby oh. Oh my baby, sweet baby. Don’t forget you love me…

-Fall apart today, Schuyler Fisk-

—-

Love is not all roses. Even roses wither. Love is… what you give to yourself first before you can give to other. Because you cannot give what you do not have. 

#Home, 14:19 011117

Advertisements

Learning from Lucy

Standard

Most of you must’ve been familiar with the new member in our family, Lucy Loo. I often post about her in my IG account, sometimes in other socmed sites although not so often to avoid my mom knowing about it. Yes, as a devout Moslem, she would be quite dissapointed (or annoyed?) with Lucy’s presence in our lives. Many people, my mom included, believe that as a Moslem, you shouldn’t have dog in your house. I don’t understand this concept though. After some traveling abroad, I am almost convinced that this concept is more cultural than religious. But I don’t like seeing my mom being upset for what I see as a small thing, so I decided to keep her in the dark about Lucy.

That’s quite unfortunate for her though because Lucy is such an adorable being. Totally opposite of her rather scary all-black look, she’s very, very sweet. Polite may not be the right word, but I’ve never met a dog with such a good and gentle personality. She doesn’t really drool (yaiks!), doesn’t bark, doesn’t jump. She follows orders (most of the time), comfortable with strangers or new space, okay with vet or car trips. And lately she’s shown us her playful side, which is very cute. I have to admit that she’s much more than what we expected. I did ponder a lot about adopting a dog because it could be handful. Do we really want to have such a big responsibility? Well, it turned out that adopting Lucy is one of the best life decisions we ever made! Here are a few personal reason why it is so.

Read the rest of this entry

Tentang beberes (3)

Standard

Jadi, bagaimana hasil proyek beberes rumah yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan itu?

Singkatnya, tentu saja wajah rumah berubah. Rumah menjadi luas, lega, dan menyenangkan untuk ditinggali. Semua barang yang ada di rumah sekarang adalah barang2 pilihan kami semua. Walaupun berat berpisah dengan banyak barang milik mamapapa, kami mengucapkan terima kasih atas jasa2 mereka selama ini. Semoga mereka mendapatkan rumah dan pemilik baru yang akan memanfaatkan mereka semaksimal mungkin. Semoga mereka menemukan cinta di tempat yang baru.

Berikut beberapa foto yang menunjukkan perubahan drastis beberapa ruangan di rumah kami.  

Read the rest of this entry

Tentang beberes (2)

Standard

Hari ini saya mau bercerita tentang tahapan besar dalam proyek beberes rumah di Bandung. Tapi sebelum itu, saya ingin berbagi info berguna bagi teman-teman yang juga mempertimbangkan untuk beberes rumah skala besar, yaitu bahwa kerjaan beberes rumah kami ini sangat terbantu dengan adanya tim BerGud yang mengawal proses ini dari dari awal.

BerGud, atau Bersih Gudang, adalah kumpulan anak2 muda manis2 dan imut2 yang membantu kami dalam berbagai hal. Kebayang dong kalo hanya saya dan mbak A yang sama2 kecil imut itu ngangkut2 perabotan dan berkardus2 barang selama berminggu2? Tidak hanya dalam hal pengangkutan, mereka juga berperan besar dalam hal pendataan, promosi dan penjualan barang2 layak jual yang keluar dari rumah kami. Yang lebih penting lagi untuk disebutkan adalah support moral mereka untuk proses ini yang melebihi ekspektasi, ditambah lagi network luas mereka yang sangat membantu dalam mendapatkan info2 menarik seputar rumah dan perabotan. Pokonya kalau mau cari apa2, tanya BerGud dulu deh. Enak kan kerja bareng sama yang segala tau? Terima kasih ya, BerGud. Bintang lima untuk kalian! ^^

Kembali kepada cerita beberes, berikut deskripsi tentang tahapan-tahapan yang kami jalani dalam proyek beberes ini. 

Read the rest of this entry

Tentang beberes (1)

Standard

Teman-teman mungkin tau bahwa 3 bulan belakangan ini, saya dan mbak A sibuk melakukan decluttering atau beberes rumah di Bandung. Bagi sebagian orang, beberes mungkin tampak sebagai kegiatan yang sederhana. Namun proses yang kami jalani jauh dari kata sederhana. Dalam seri postingan ini, saya ingin cerita tentang proses tersebut, siapa tau bisa menginspirasi temen2 untuk melakukan hal yang sama.  Oh iya, berhubung belum ketemu terjemahan kata “decluttering” yang representatif terhadap arti yang saya maksud, sekarang pake kata “beberes” dulu ya, walaupun sebenernya yang kami lakukan itu lebih luas daripada sekedar beberes.

Mereka yang pernah main ke rumah Bandung harusnya bisa membayangkan sebesar dan sepenuh apa rumah itu. Buat yang belum pernah, bayangkan rumah dengan luas tanah 400-an m2 yang penuh diisi oleh benda2 yang dimiliki sejak tahun 80an. Yah, kira2nya kalo kita segenerasi, dan ibu2 kita juga segenerasi, bayangin deh rumah keluarga sendiri yang isinya barang2 milik ibu (dan bapak) yang tidak pernah dibuang dari masa kitanya sendiri belum lahir. Penuh, sesak, lembab dan berdebu. Setelah mama berpulang Maret lalu, mandat utama bagi G bersaudara adalah pengelolaan rumah keluarga yang besar dan penuh barang ini. Semua sepakat untuk memulai proyek beberes rumah sesegera mungkin. 

Read the rest of this entry

Gua itu gelap

Standard

Adalah sebuah gua. Yang tercipta dari hati yang terluka. Di dindingnya kutuliskan semua perasaan yang tak pernah sanggup terucap. Di dalamnya kusimpan wadah yang menampung tangis yang tertumpah dalam bisu.

Gua itu gelap. Di dalamnya kunyalakan lilin agar dinginnya menghilang. Agar hangatnya api memenuhi ruangan. Tapi dinginnya menusuk. Hangatnya api tak sanggup menghilangkan dingin itu.

Di dalamnya kusimpan bunga2 cinta yang dulu bermekaran. Kini bunga2 itu layu. Kekurangan cinta dan sentuhan. Kubawa mereka ke dalam gua karena kupikir mereka butuh menyendiri. Agar tumbuh kembali tunasnya yang baru. Namun semua yang kulakukan tidak mampu mempertahankan tunas2 baru yang tumbuh. Ia layu di tengah badai emosi yang berkecamuk di dalam diri.

Dan gua itu semakin lama semakin membesar. Semakin dalam. Semakin gelap. Menghisap sedikit demi sedikit cahaya cinta yang kumiliki untukmu.

Aku takut. Suatu hari cahaya itu akan habis. Membuat aku terperangkap dalam gua penuh lukaku terhadap kita. Bila masa itu datang. Semoga tidak. Tapi bila ia datang. Itulah akhir dari kita.