Nice little thing

Standard

Gue ketemu sama ibu ini waktu lagi di pesawat pulang menuju Tokyo. Pas sampe di nomer tempat duduk dan ngeliat si ibu, gue langsung tau kalo tampang gue sebagai orang yang ‘tampaknya pasrah untuk diajak ngobrol’ di perjalanan jauh (a.k.a kereta, mobil, pesawat, kapal laut) akan membuat si ibu itu ngajak ngobrol sepanjang perjalanan. Yap, selama ini, gue selalu ketemu dan jadinya punya apa yang gue dan si doi sebut sebagai random friends yang ketemu di jalan. Haha.. jadi ingat, gara-gara tampang pasrah gue ini, gue pernah kenalan ama bapak2 yang kerja di PU Jakarta, nenek2 jepang yang gatau ngomong apaan soalnya gue roaming haha.., jadi kenal ama penulis tenar di Indo… *pa kabar mbak anjar? ..*.. dan pernah ‘nodong’ minjem telpon ama orang yang ternyata anak ITB juga karna hape gue gada dan mungkin dicopet *padahal ternyata ketinggalan di rumah :P* dan membuat si doi harap2 cemas gara2 abis ngirim sms cinta hahaha…

Dan benar adanya, mulai menit pertama gue duduk sampe sampe dan keluar dari pesawat pun, si ibu ngajakin ngobrol dengan cerianya. Ada sih saat-saat dimana gue berhasil ‘melarikan diri’ dengan tidur sesaat.. tapi kayanya gak terlalu berhasil juga hehe.. Anyway, si ibu adalah orang yang baik, gak terlalu banyak cerita yang ngasi info tentang dirinya sendiri, lebih banyak kami ngobrol tentang hal-hal umum untuk perjalanan jauh, seperti cuaca *yang bikin merinding tiap naik pesawat.. hehe..*, atau pemandangan di luar pesawat, kota-kota yang pernah kami kunjungi, kesan-kesannya seperti apa, dan seterusnya. Ga ada hal yang istimewa sebenernya.. cuman ada satu hal yang bikin teringat terus ama ibu itu, dan gue pikir adalah sebuah pembelajaran buat gue.

Sebelumnya, si ibu sibuk nyari kertas. Nanya ke gue, ke mbak pramugari, nyari di handbagnya, dan akhirnya menyerah dengan menulis di tisu makanan. Dia cerita kalo dia kerja sebagai sort-of-a-writer. Jadi gue pikir, mungkin dia lagi dapet ide buat nulis kali ye berhubung di luar pemandangannya penuh dengan awan2 indah. Pada akhir perjalanan, dia terlihat puas dengan apa yang dia tulis, dan nyolek gue. Sambil senyum dia bilang, ‘What do you think about this? I love writing this things to them.’ Pas gue baca, dia nulis sesuatu yang seperti ini kira-kira:

“Dear stewards and stewardesses, thank you very much for your help and services. I had a good flight. The food was good, the service was nice. I am happy to be in this flight. Please also send my best wishes to the pilot and co-pilot. It was a smooth flight. Thank you very much. I hope you have a nice day. Regards, Ms. xxx

Dia cerita kalo dia sebisa mungkin selalu meninggalkan pesan seperti itu. Waktu dateng ke konferens di India, dia make sure kalo koki yang masak untuk jamuan makan malemnya tau kalo masakannya enak dengan ninggalin pesan di atas meja. Kalau dia di hotel, dia akan ninggalin pesen untuk orang yang ngebersihin ruangannya. Dan seterusnya. Pada akhirnya, si ibu menjadi dikenal oleh orang-orang yang pernah ketemu dan ‘ngelayani’ si ibu. Tapi well, good things came from good things too, don’t you think?

Gue gak tau sebanyak apa orang di luar sana yang sering menulis hal yang seperti itu. Tapi yang jelas gue bukan. Mungkin itu bukan hal yang besar, tapi I think it’s a really nice thing to do. Untuk membuat orang lain tau kalau mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik, dan bahwa mereka dihargai oleh kita yang menjadi objek penerimanya. Si ibu bilang dia ga punya misi apapun dengan melakukan nice little things kaya gitu. Dia cuma bilang, ‘I’m sure they’re happy when they read it, and that’s good.‘ Yes, I’m sure they are. Gue bisa ngeliat dari wajah2 pramugari yang nyapa si ibu waktu mau turun dari pesawat. Yap, itu adalah tindakan kecil yang gak sulit, tapi cukup untuk nunjukin penghargaan kita terhadap orang lain.

Jadi Q…We should start doing nice things like that in our daily life, shouldn’t we?

.. Written and Published by utilizing Qumana..

4 responses »

  1. Jadi Q…We should start doing nice things like that in our daily life, shouldn’t we?

    dan yang paling utama, do it with your heart… straight from the heart… =)… Terima kasih sudah menulis hal ini ya Q =)

    yap.. aku setuju!.. jadi goi.. ingetin aku untuk melakukan nice little things seperti yang si ibu ya..🙂..

  2. Pernahkah mendengar, bahwa membuat kebahagiaan orang lain juga akan membuat kita bahagia?

    Saya banyak belajar dari lingkungan, saat di perjalanan, saat duduk menunggu dokter gigi, banyak cerita dan pembelajaran yang saya peroleh dari mengobrol denga orang yang duduk di kiri kananku. Dan saya percaya, saya dibesarkan oleh lingkungan, tak hanya oleh lingkungan keluarga, tapi juga lingkungan di sekeliling saya.

    Saat saya kost di tempat dosen, saya sering menjadi tempat curhat bapak dosen, terus kemudian isterinya…padahal saat itu saya masih mahasiswa yang nggak ngerti urusan politik kantor atau masalah rumah tangga…tapi justru dari merekalah saya banyak belajar. Dan ternyata kehidupanku juga selalu diselamatkan oleh lingkungan, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tak terlalu saya kenal.

    iya bu, saya juga ngerasa kaya gitu.. banyak banget cerita orang2 yang sebenernya kalo bisa dibilang, ketemunya cuman selintasan, tapi justru bikin saya mikir tentang macem2 .. hal2 yang saya sudah, sedang, dan pengen lakukan.. dan banyak dapet inspirasi dari mereka. kadang2, our path cross others’ cuma sebentar atau bahkan hanya sekali, tapi bahkan hanya sekali pun cukup untuk ‘menyentil’ garis hidup kita ya bu? hehe.. moga2 di masa depan bisa ketemu dan blajar dari lebih banyak orang lagi.. misalnya dari bu edratna.. hehe..😉..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s