Tentang privasi

Standard

Dengan jalur informasi yang sudah semakin terbuka seperti skarang, kadang2 suka ga bisa membayangkan bagaimana jaman dulu orang2 bisa bertukar informasi, dan bagaimana bedanya hidup mereka dengan hidup kita skarang. Suka bertanya2, dulu orang riset level S2 ato S3 gimana ya nyari daftar pustakanya, apalagi di universitas yang perpustakaannya ga lengkap sama skali. Hari gini, orang tinggal tanya om google scholar aja, baca di google books aja, cari di perpus elektronik aja, kirim email ke penulis2 paper itu aja.. gampang. (ngaksesnya yaaa, bukan ngerjainnya :D).

Tapi seperti dua sisi mata uang, keterbukaan informasi juga mengarah pada hal2 negatif. Isu yang paling besar kayanya adalah pelanggaran privasi. Menurut gw, pada dasarnya pertanyaannya kembali ke diri masing2, sampai sejauh mana kita mau “membuka diri” di dunia maya? Dengan berbagai kemudahan di situs2 social networking kaya facebook, twitter, dkk, termasuk blogging, kadang2 kita suka lupa, betapa mudahnya membuka informasi2 yang tidak seharusnya diketahui orang lain. Misalnya info2 yang memuat aib pribadi, aib keluarga, ato bahkan informasi2 sensitif yang bisa dipakai untuk validasi hal2 penting seperti informasi perbankan, atau semacamnya.

Sseberapa banyak kita membuka diri di dunia maya, adalah suatu hal yang bisa kita kontrol. Apapun yang terjadi karenanya, adalah suatu tanggung jawab yang harus kita ambil sendiri. Misalnya, hobi blogging, posting foto atau status yang agak ‘mengganggu’ di facebook (yang bagi tiap orang, arti ‘mengganggu’ itu bisa beda2), approve aplikasi gak penting ato temen yang sebenernya gak kenal.. kalau di masa depan hobi ato kebiasaan itu menjadi bumerang bagi diri sendiri, misalnya pas nyari kerja, ato nyari pasangan hidup, kata gw, itu sih salah sendiri. Sebab mem-posting sesuatu ibaratnya menceritakan hal itu kepada seseorang, yang akan menceritakannya ke orang lain, dan ke orang lain lagi, dan seterusnya, hingga akhirnya diketahui oleh orang lain yang tidak kita kenal tapi mungkin akan jadi penentu nasib kita di masa depan (hiperbola, tapi gw rasa ini bener kok).

Tapi sebenernya, buat gw, ada hal lain yang lebih mengganggu, karna ga bisa kita kontrol sendiri. Yaitu bahwa jaman keterbukaan informasi ini membuat orang lain bisa membuka informasi yang tidak ingin kita share, dan dilakukan tanpa consent atau persetujuan dari kita. Misalnya, lewat ‘tagging’ di facebook (yang meskipun bisa di-remove, tapi bete aja nge-remove satu2). Contoh lain, (tanpa bermaksud menyinggung yang melakukan) adalah kebiasaan mem-posting foto anak2 bagi yang sudah berkeluarga. Lucu sih, tapi bagaimana kalau ketika anak2 itu udah SD ato SMP, ato lebih dewasa lagi, foto2 itu diakses ama orang lain (temen, rekan kerja, dkk) dan dijadikan bahan bully (olok2)? Apalagi, sekali informasi itu sudah beredar, hampir tidak mungkin menghapusnya tanpa bekas. Ah, moga2 gw bisa menahan diri untuk tidak (terlalu banyak) melakukannya kalo udah punya anak nanti, hehe..

Beberapa orang mengambil langkah ekstrim, dengan tidak memulai sama skali atau dengan menghapus seluruh jejak informasi virtual yang pernah ada atau gak sengaja di-posting. Banyak temen gw yang sangat gampang ketakutan, terutama ketika berhubungan dengan internet, social networking, bahkan menggunakan kartu kredit di situs yang aman sekalipun (well, walaupun kita yang awam gak pernah benar2 tau seaman apakah situs itu). Jadi mereka memilih untuk tidak memanfaatkan kenyamanan2 yang bisa didapat dari situ.

Hm, menurut gw, sekeras apapun usaha untuk menghilangkan jejak2 itu, kayanya gak mungkin deh 100% gak terlacak di dunia maya. Hari gini, menjaga privasi 100% is impossible. Mungkin memang bener kata temen gw, privacy is overrated. Mungkin memang gw harusnya tidak terlalu concern. Ada hal2 yang pengen gw bagi karna mungkin akan sangat bermanfaat bagi orang lain, karna itulah blog ini dibuat. Ada juga hal2 yang ingin gw tinggalkan sebagai jejak masa muda, untuk dilihat dan dikenang kembali di masa depan (apalagi gw short memory lost yah :D). Tapi ada juga hal2 yang ingin gw tutup rapat2 dan disimpan untuk diri sendiri, mungkin untuk dilupakan. Tapi, hari gini, sejauh mana sih kita bisa mengontrol informasi yang beredar? Sejauh mana kita bisa menarik garis, misalnya antara hak kita untuk berbagi, dan hak anak atau teman kita untuk menjaga privasi mereka? Hmmm… Hmmmmmmmm…

PS: Untuk anak2ku di masa depan, jika suatu saat aku membuatmu malu karna memposting sesuatu yang tidak pantas menurutmu, maafkan aku yaahh..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s