[Iwate] Labtrip 2011

Standard

Hari Kamis besok, lab gw akan melakukan ritual tahunan yang biasanya diorganisir mahasiswa master tahun pertama. Biasanya musim semi sekitaran Mei, tapi tahun ini diundur jadi musim panas karna ada gempa 11 Maret tea. Ritualnya bernama zemi gassyuku, yang artinya adalah jalan-jalan se-lab sambil belajar.

Sebenernya udah lama pengen ngeblog tentang ini. Tapi berhubung semua dokumen dan kegiatannya berbahasa Jepun, gw gak terlalu ngerti intinya apa, jadi bingung juga nulis apa selain tentang jalan2nya. Tapi gw memutuskan akan menulis perjalanan tahun ini, yang menjadi spesial karna tiga alasan: trip ini akan jadi trip terakhir di lab berhubung babeh udah mo pensiun (huhuhu..T_T), tujuan trip adalah provinsi Iwate yang adalah salah satu daerah bencana, dan tema studinya adalah manajemen sukarelawan (volunteer management) yang menjadi minat gw belakangan ini.

Kalo gw ga salah nerjemahin nih dari dokumen rumput itu, tema studinya adalah disaster volunteer center. Studinya sendiri dilatarbelakangi oleh adanya ke’kacau’an dalam manajemen volunteer, dimana kebutuhan si target (=beneficiary) dan kegiatan voluntary suka ga matching, terutama dalam situasi bencana. Sepertinya, dengan sangat majunya Jepang dalam tanggap bencana, pemulihan infrastruktur dan lainnya sangat cepat, jadi arus volunteer pun bisa dengan cepat nyampe di daerah bencana (cepat dibandingkan negara lain ya, di Jepang sendiri dianggap lambat). Tapi efek sampingnya, ada kebingungan juga, karna volunteer menumpuk di satu tempat dan kekurangan di tempat lain (yang merupakan hal normal dalam volunteering). Untuk mendistribusikan bantuan dan volunteer dengan baik, masyarakat di daerah bencana, LSM dan pemerintah kerja sama untuk bikin volunteer center, yang kemudian mendirikan ‘satelit’ ato cabang di tempat2 yang lebih terpencil. Masing2 satelit akan ngumpulin informasi tentang kebutuhan korban dalam wilayah kerja masing2, melaporkan kebutuhan volunteer dan bantuan ke kantor pusat, yang selanjutnya akan ngasi info tentang supply volunteer dan bantuan. Jadi kantor pusat dan satelit volunteer center ini akan me-matching-kan supply dan real needsnya.

Nah, bagian studi dalam labtrip ini pengen ngeliat gimana sih pembagian tugas dan peran si kantor pusat dan satelit2 volunteer center ini, segimana membantunya punya kantor satelit, gimana mereka berhubungan dengan pemerintah dan pihak2 lain seperti volunteer2 center lain, korban bencana, proyek2 apa aja yang dikerjain, dkk. Bagian stngah-studi-stengah-maen adalah field visit ke beberapa lokasi bencana dan satu volunteer center dan satelit2nya di sebuah kota yang gw gak tau baca kanji-nya gimana😀. Sementara (harusnya) bagian maennya adalah melakukan pekerjaan volunteering di tempat2 itu. Jadi rencananya kita bakal dibagi ke beberapa grup dan bakal ikut berpartisipasi dalam project2 untuk para relawan yang diorganisir oleh si volunteer center itu. Nah, gw bilang ‘harusnya’, karena… list project yang dikasi itu termasuk bersihin sungai dari lumpur (‘Project Ikan’ buat menghidupkan kembali habitat sungai), ato jadi tukang bangunan (project bikin rumah sementara buat pengungsi, membangun kembali toko dan karaoke yang ancur). Nah, waktu volunteeringnya itu jam 10 pagi ampe jam 3 sore. Bo… Jepang lagi panas gitu loh. Ga boleh style tukang pula.. harus pake baju kerja lengkap dengan jas ujan, spatu but, safety glasses, topi, dan sarung tangan karet. Kalo suhu lagi 35 drajat, mateng gak sih?  

Tapi eniwei, gw cukup menanti2 labtrip ini. Dari segi tema, jauh lebih menarik dibanding tahun2 sebelumnya: community wind-power (2007), bio-diversity conservation setelah Aichi Expo (2006), pelestarian lingkungan di kota tambang tertua di Jepang (2009), pembangunan jembatan yang mungkin ngehancurin ekosistem laut (2008), dan tahun lalu yang gw gak ngerti sama skali😀. Dari segi non-studi, pengen juga ngeliat gimana situasi disaster volunteering di Jepang, sebuah negara yang sangat efisien tapi juga sangat communal. Gw pernah bilang (di blog juga ga ya?), bahwa ‘if I were given one choice of place to experience a huge earthquake, that would be Japan’, itu adalah karna akan ada banyak pelajaran yang bisa ditarik dari negara ini. Dan labtrip tahun ini akan jadi salah satu wahana gw buat belajar (cieh, wahana bo :D). Jadi.. otanoshimi!

PS: akhir2 ini gw mendengar istilah ‘disaster tourism’. Kata om wiki artinya adalah ‘the act of traveling to a disaster area as a matter of curiosity’. Dan bahwa ‘if not done because of pure curiousity, it can be cataloged as disaster learning’. Nah loh, labtrip tahun ini.. disaster tourism ga ya? (-_-;)

6 responses »

  1. saya dari jurusan perencanaan kota. wahh, dekat dong kita kalo Ayu dari teknik sipil mahh.. Untuk monbusho setau saya itu batas minimlanya 2,75. Tapi tentu saja kalo bisa di atas 3 akan lebih baik.😉. Sukses yaaa…

    • wah iya, berdekatan juga kak..
      saat ini juga sedang berusaha untuk mencapai IPK “aman”, mudah2an tercapai, aamiin..
      makasih ya kak, semangat juga ^^

      • kakak dari jurusan apa?
        salam kenal ya kak, saya dari jurusan teknik sipil🙂
        mesti mencapai IPK besar ya untuk Monbusho? kira2 sekitar brp kak target IPK minimal (daya saing) yg harus dicapai?

        • dari jurusan plano. wah, dekat dongg kalo jurusan sipil mahh.. kalo monbusho sih minimal 2,75 ya setau saya, tapi tentu saja di atas 3 akan lebih baik. Sukses yaa Ayu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s