Romansa

Standard

Saya. Belum pernah ke Paris. Belum pernah ke Sydney. Belum pernah ke Venesia. Tiga kota paling romantis di dunia menurut hasil pencarian di om gugel. Dari 25 kota dalam daftar itu, saya ‘hanya’ pernah ke 2 kota, Kyoto dan Praha. Jadi, apa yang orang-orang gambarkan sebagai romantis, lansekap kota yang indah, bunga-bunga cantik dan alunan musik yang memenuhi sudut-sudut kota, para pelancong yang sedang berbulan madu, saya meraba-raba dalam gelap.

Mungkin. Hanya mungkin. Apa yang saya bayangkan agak mendekati aslinya. Mungkin. Langit Venesia serupa dengan langit ungu bercampur oranye saat matahari terbenam di Seattle. Langit terindah yang pernah saya lihat seumur hidup. Mungkin. Sudut-sudut area tepi laut Sydney sedikit mirip dengan sudut-sudut area tepi laut Singapura. Dengan bangunan-bangunan cantik menghadap laut dan jembatan-jembatan penghubung daratan membawa para komuter dari satu tempat ke tempat lain. Tempat favorit saya untuk berpura-pura menjadi turis di tempat tinggal sendiri. Mungkin. Kafe-kafe kecil di Paris dengan aroma roti yang baru keluar dari oven, suara orang berbincang dalam bahasa yang asing di telinga, dan hiburan ‘gratis’ dari artis-artis jalanan sedikit mirip dengan kafe-kafe kecil tersembunyi di pinggiran kota tua Talinn. Tempat saya pertama kali menemukan banyak sisi yang bersembunyi di dalam diri sendiri. Mungkin.

Romansa. Ada di mana saja. Di sofa sebuah kafe buku di River Valley. Di bangku kompleks hawker di stasiun Segar. Di kursi tempat kerja saya dan dia di dalam rumah. Romansa ada di dalam imajinasi.

#Home/Singapore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s