Tentang beberes (1)

Standard

Teman-teman mungkin tau bahwa 3 bulan belakangan ini, saya dan mbak A sibuk melakukan decluttering atau beberes rumah di Bandung. Bagi sebagian orang, beberes mungkin tampak sebagai kegiatan yang sederhana. Namun proses yang kami jalani jauh dari kata sederhana. Dalam seri postingan ini, saya ingin cerita tentang proses tersebut, siapa tau bisa menginspirasi temen2 untuk melakukan hal yang sama.  Oh iya, berhubung belum ketemu terjemahan kata “decluttering” yang representatif terhadap arti yang saya maksud, sekarang pake kata “beberes” dulu ya, walaupun sebenernya yang kami lakukan itu lebih luas daripada sekedar beberes.

Mereka yang pernah main ke rumah Bandung harusnya bisa membayangkan sebesar dan sepenuh apa rumah itu. Buat yang belum pernah, bayangkan rumah dengan luas tanah 400-an m2 yang penuh diisi oleh benda2 yang dimiliki sejak tahun 80an. Yah, kira2nya kalo kita segenerasi, dan ibu2 kita juga segenerasi, bayangin deh rumah keluarga sendiri yang isinya barang2 milik ibu (dan bapak) yang tidak pernah dibuang dari masa kitanya sendiri belum lahir. Penuh, sesak, lembab dan berdebu. Setelah mama berpulang Maret lalu, mandat utama bagi G bersaudara adalah pengelolaan rumah keluarga yang besar dan penuh barang ini. Semua sepakat untuk memulai proyek beberes rumah sesegera mungkin. 

Sebenarnya ada dua alasan utama untuk proyek beberes ini. Pertama, adalah menjadikan rumah Bandung sebagai tempat yang nyaman buat kami semua. Mewakili G, rasanya saya bisa bilang bahwa sejak keluar rumah dan tidak lagi memiliki kamar sendiri, selalu ada perasaan bahwa pulang ke rumah Bandung judulnya adalah ‘numpang’. Sama seperti kamar saya di Makassar, kamar G sudah dialihfungsikan agar lebih produktif, i.e. jadi gudang, kamar tamu, atau lainnya, sehingga kami selalu memakai kamar yang sebenarnya disiapkan untuk tamu. Tidak lagi ada ruang untuk memberi sentuhan pribadi pada kamar itu, sehingga sedikit demi sedikit, kamar dan rumah Bandung menjadi tempat yang relatif ‘asing’ buat kami. Padahal, kami semua merasa mengakar di Indonesia dan rumah Bandung merupakan representasi terbesar dari perasaan itu. Karena itu, misi utama proyek beberes ini adalah mengembalikan perasaan memiliki, kenal, dan akrab dengan rumah ini dan menghilangkan perasaan ‘asing’ tersebut.

Alasan kedua juga berkaitan dengan perasaan mengakar tersebut. Beda dengan keluarga saya yang selalu berpindah-pindah, G bersaudara tinggal di rumah ini sedari kecil hingga dewasa. Banyak sekali kenangan yang tumbuh di rumah ini, di mana setiap ruang, setiap sudut, dinding dan atap punya cerita masing-masing. Tentunya ada banyak emosi yang melekat dalam semua cerita itu. Apalagi pada inti dari setiap cerita adalah mamapapa sebagai pengikat dan sumber kekuatan G bersaudara. Dengan berpulangnya mama, kegiatan beberes rumah menjadi medium yang tepat untuk juga beberes emosi yang melekat di rumah ini. Beberes emosi bukan berarti melupakan, tapi memilah dan memilih untuk menyimpan yang positif dan melepas yang memberatkan seiring dengan kegiatan memilah dan memilih barang yang akan disimpan atau dilepas. 

Sebelum memulai, sangat penting untuk sepakat tentang hal-hal dasar yang menjadi pertimbangan saat beberes. Berikut tiga prinsip utama yang kami gunakan: 

  • Spark joy, diartikan sebagai menyimpan hanya barang yang kita suka dan butuhkan dan melepas sisanya. Dalam prakteknya, hanya dengan menggunakan prinsip ini saja kami berhasil mengeliminasi sekitar 60% barang di rumah. 
  • Menghormati satu sama lain. Maksudnya: tim beberes hanya boleh membuang barang yang sudah lolos seleksi bersama. Bila ada yang belum siap melepas, tidak boleh dipaksa untuk melepas. Selain itu, barang yang sifatnya personal hanya boleh dilepas oleh yang punya, kecuali bila hak ini didelegasikan kepada tim beberes.
  • Selalu berkomunikasi. Jangan hanya tim beberes aja yang tau apa yang terjadi. Yang tidak ikutan beberes juga harus tetap mengikuti perkembangan tim beberes.

Berhubung sudah cukup panjang, ceritanya dipotong di sini dulu ya. Postingan besok akan berisi tentang tahapan yang kami lalui selama 3 bulan beberes rumah.

Berikut foto sebelum-sesudah di ruang tengah. Oia, di foto sesudah, masih ada 2 lemari yang sudah laku tapi belum diambil oleh pembeli.

This slideshow requires JavaScript.

 

 

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s