Category Archives: Daily Journal

Kepada: Angin, tanah dan hujan

Standard

Kepada: angin yang berbisik

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika hembusan nafas terakhir membawa jiwanya ke alam yang tak terjamah. Dia menjadi kekal sepertimu. Menjadi suara penyejuk di kala jiwa sedang resah. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: tanah yang berdiam

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika raganya terkubur di antara ramainya ilalang dan akar pohon. Dia menjadi kokoh sepertimu. Menjadi topangan keyakinan di kala jiwa sedang gundah. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: hujan yang mengguyur

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika butiran gerimis hari ini membentuk jelas air matanya yang selalu menetes di tiap perpisahan. Dia mengalir seperti dirimu. Menjadi alunan doa yang terbersit di kala jiwa sedang gulana. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: angin, tanah, dan hujan

Aku tahu kalian adalah dirinya. Ketika ia hadir dalam setiap arah yang kupandang. Ketika tak putus rasa syukur mengingat pertemuan dengannya. Aku tahu kini dia dalam damai yang abadi. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Sesungguhnya kita adalah milik-Nya dan kepadaNya kita akan kembali.

#Singapore, 29 March 2017. Untuk mama. (dan papa. dan papake.)

Saya dan Efek Konmari

Standard

Sudah beberapa bulan belakangan saya berniat berbagi cerita tentang Konmari. Tepatnya setelah saya mempraktekkan apa yang diajarkan Marie Kondo, si ibu penemu metoda decluttering atau bebersih, ini sekitar 6 bulan lalu. Awalnya berjudul coba-coba, walau jauh di lubuk hati yang paling dalam, pertama mendengar tentang buku dan review isinya dari sahabat tercinta sekitar 2 tahun lalu, saya sudah langsung tau bahwa ini akan menjadi salah satu ‘kitab’ bebersih saya. Lah wong kata saktinya adalah “spark joy”, alias membuat bahagia. Dan siapa pun yang mengenal saya tentu tau bahwa bahagia adalah salah satu filosofi hidup saya. Tapi sampai 6 bulan yang lalu, saya masih terlalu takut untuk membaca buku itu. Takut terlalu menggebu-gebu dan tidak bisa fokus mengerjakan yang lain. Untuk buku yang seperti ini, saya selalu menunggu momen yang pas. Karena, setiap buku yang spesial perlu waktu khusus dan persiapan energi yang cukup banyak untuk meresapi maknanya. Waktunya datang di bulan September, ketika saya memutuskan untuk rehat dari dunia pekerjaan. Coba-coba ini ternyata berakhir dengan menjadi pengikut taat.

Read the rest of this entry

Missed connection

Standard

Every one of us must have experienced this at some point. The feeling of regret of not saying hi to someone that we’re interested in, of not starting a conversation with that person, of not asking to meet them some place some time, or perhaps… of not saying sorry because you did them wrong. The looking back to the past and wondering what would’ve happened if we did that back then. Doesn’t mean that we’re not happy where we are now. In fact it doesn’t mean anything, except for one: curiosity.

Read the rest of this entry

Bayangmu

Standard

Mungkin. Yang aku cintai adalah bayangmu. Ketika kamu satu dengan bayangan itu, bertahun-tahun lalu.

Lalu pada suatu saat, ketika kamu melangkah, bayangmu tertinggal. Kamu pergi tanpa bayangmu. Ia berdiam sendirinya di kelam malam.

Dan dialah yang aku lihat. Dan aku sayangi. Dan kepada siapa aku pupuk cintaku.

Karena itu, aku terluka. Retak. Berhamburan. Ketika ia bergeming. Layu. Hitam. Suram.

Lama aku bertanya. Apa salahku? Kenapa kau tak menoleh? Seolah buta dan bisu? Tak melihatku yang luka. Yang marah. Yang sepi?

Mungkin. Karena ia adalah bayangmu. Bukan dirimu. Dirimu sudah jauh entah dimana. Tak mampu aku ikuti. Tak mampu mengikuti aku.

Kita jauh. Tak mampu menggapai satu sama lain. Kita pecah. Di tengah diam dan air mata.

#Home/Singapore

Romansa

Standard

Saya. Belum pernah ke Paris. Belum pernah ke Sydney. Belum pernah ke Venesia. Tiga kota paling romantis di dunia menurut hasil pencarian di om gugel. Dari 25 kota dalam daftar itu, saya ‘hanya’ pernah ke 2 kota, Kyoto dan Praha. Jadi, apa yang orang-orang gambarkan sebagai romantis, lansekap kota yang indah, bunga-bunga cantik dan alunan musik yang memenuhi sudut-sudut kota, para pelancong yang sedang berbulan madu, saya meraba-raba dalam gelap.

Mungkin. Hanya mungkin. Apa yang saya bayangkan agak mendekati aslinya. Mungkin. Langit Venesia serupa dengan langit ungu bercampur oranye saat matahari terbenam di Seattle. Langit terindah yang pernah saya lihat seumur hidup. Mungkin. Sudut-sudut area tepi laut Sydney sedikit mirip dengan sudut-sudut area tepi laut Singapura. Dengan bangunan-bangunan cantik menghadap laut dan jembatan-jembatan penghubung daratan membawa para komuter dari satu tempat ke tempat lain. Tempat favorit saya untuk berpura-pura menjadi turis di tempat tinggal sendiri. Mungkin. Kafe-kafe kecil di Paris dengan aroma roti yang baru keluar dari oven, suara orang berbincang dalam bahasa yang asing di telinga, dan hiburan ‘gratis’ dari artis-artis jalanan sedikit mirip dengan kafe-kafe kecil tersembunyi di pinggiran kota tua Talinn. Tempat saya pertama kali menemukan banyak sisi yang bersembunyi di dalam diri sendiri. Mungkin.

Romansa. Ada di mana saja. Di sofa sebuah kafe buku di River Valley. Di bangku kompleks hawker di stasiun Segar. Di kursi tempat kerja saya dan dia di dalam rumah. Romansa ada di dalam imajinasi.

#Home/Singapore