Category Archives: Daily Journal

Learning from Lucy

Standard

Most of you must’ve been familiar with the new member in our family, Lucy Loo. I often post about her in my IG account, sometimes in other socmed sites although not so often to avoid my mom knowing about it. Yes, as a devout Moslem, she would be quite dissapointed (or annoyed?) with Lucy’s presence in our lives. Many people, my mom included, believe that as a Moslem, you shouldn’t have dog in your house. I don’t understand this concept though. After some traveling abroad, I am almost convinced that this concept is more cultural than religious. But I don’t like seeing my mom being upset for what I see as a small thing, so I decided to keep her in the dark about Lucy.

That’s quite unfortunate for her though because Lucy is such an adorable being. Totally opposite of her rather scary all-black look, she’s very, very sweet. Polite may not be the right word, but I’ve never met a dog with such a good and gentle personality. She doesn’t really drool (yaiks!), doesn’t bark, doesn’t jump. She follows orders (most of the time), comfortable with strangers or new space, okay with vet or car trips. And lately she’s shown us her playful side, which is very cute. I have to admit that she’s much more than what we expected. I did ponder a lot about adopting a dog because it could be handful. Do we really want to have such a big responsibility? Well, it turned out that adopting Lucy is one of the best life decisions we ever made! Here are a few personal reason why it is so.

Read the rest of this entry

Advertisements

Kepada: Angin, tanah dan hujan

Standard

Kepada: angin yang berbisik

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika hembusan nafas terakhir membawa jiwanya ke alam yang tak terjamah. Dia menjadi kekal sepertimu. Menjadi suara penyejuk di kala jiwa sedang resah. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: tanah yang berdiam

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika raganya terkubur di antara ramainya ilalang dan akar pohon. Dia menjadi kokoh sepertimu. Menjadi topangan keyakinan di kala jiwa sedang gundah. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: hujan yang mengguyur

Aku tahu dia adalah dirimu. Ketika butiran gerimis hari ini membentuk jelas air matanya yang selalu menetes di tiap perpisahan. Dia mengalir seperti dirimu. Menjadi alunan doa yang terbersit di kala jiwa sedang gulana. Ada. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Kepada: angin, tanah, dan hujan

Aku tahu kalian adalah dirinya. Ketika ia hadir dalam setiap arah yang kupandang. Ketika tak putus rasa syukur mengingat pertemuan dengannya. Aku tahu kini dia dalam damai yang abadi. Tak tersentuh ruang dan waktu.

Sesungguhnya kita adalah milik-Nya dan kepadaNya kita akan kembali.

#Singapore, 29 March 2017. Untuk mama. (dan papa. dan papake.)

Saya dan Efek Konmari

Standard

Sudah beberapa bulan belakangan saya berniat berbagi cerita tentang Konmari. Tepatnya setelah saya mempraktekkan apa yang diajarkan Marie Kondo, si ibu penemu metoda decluttering atau bebersih, ini sekitar 6 bulan lalu. Awalnya berjudul coba-coba, walau jauh di lubuk hati yang paling dalam, pertama mendengar tentang buku dan review isinya dari sahabat tercinta sekitar 2 tahun lalu, saya sudah langsung tau bahwa ini akan menjadi salah satu ‘kitab’ bebersih saya. Lah wong kata saktinya adalah “spark joy”, alias membuat bahagia. Dan siapa pun yang mengenal saya tentu tau bahwa bahagia adalah salah satu filosofi hidup saya. Tapi sampai 6 bulan yang lalu, saya masih terlalu takut untuk membaca buku itu. Takut terlalu menggebu-gebu dan tidak bisa fokus mengerjakan yang lain. Untuk buku yang seperti ini, saya selalu menunggu momen yang pas. Karena, setiap buku yang spesial perlu waktu khusus dan persiapan energi yang cukup banyak untuk meresapi maknanya. Waktunya datang di bulan September, ketika saya memutuskan untuk rehat dari dunia pekerjaan. Coba-coba ini ternyata berakhir dengan menjadi pengikut taat.

Read the rest of this entry

Missed connection

Standard

Every one of us must have experienced this at some point. The feeling of regret of not saying hi to someone that we’re interested in, of not starting a conversation with that person, of not asking to meet them some place some time, or perhaps… of not saying sorry because you did them wrong. The looking back to the past and wondering what would’ve happened if we did that back then. Doesn’t mean that we’re not happy where we are now. In fact it doesn’t mean anything, except for one: curiosity.

Read the rest of this entry

Bayangmu

Standard

Mungkin. Yang aku cintai adalah bayangmu. Ketika kamu satu dengan bayangan itu, bertahun-tahun lalu.

Lalu pada suatu saat, ketika kamu melangkah, bayangmu tertinggal. Kamu pergi tanpa bayangmu. Ia berdiam sendirinya di kelam malam.

Dan dialah yang aku lihat. Dan aku sayangi. Dan kepada siapa aku pupuk cintaku.

Karena itu, aku terluka. Retak. Berhamburan. Ketika ia bergeming. Layu. Hitam. Suram.

Lama aku bertanya. Apa salahku? Kenapa kau tak menoleh? Seolah buta dan bisu? Tak melihatku yang luka. Yang marah. Yang sepi?

Mungkin. Karena ia adalah bayangmu. Bukan dirimu. Dirimu sudah jauh entah dimana. Tak mampu aku ikuti. Tak mampu mengikuti aku.

Kita jauh. Tak mampu menggapai satu sama lain. Kita pecah. Di tengah diam dan air mata.

#Home/Singapore