Tag Archives: Bahasa Indonesia

Saya dan Efek Konmari

Standard

Sudah beberapa bulan belakangan saya berniat berbagi cerita tentang Konmari. Tepatnya setelah saya mempraktekkan apa yang diajarkan Marie Kondo, si ibu penemu metoda decluttering atau bebersih, ini sekitar 6 bulan lalu. Awalnya berjudul coba-coba, walau jauh di lubuk hati yang paling dalam, pertama mendengar tentang buku dan review isinya dari sahabat tercinta sekitar 2 tahun lalu, saya sudah langsung tau bahwa ini akan menjadi salah satu ‘kitab’ bebersih saya. Lah wong kata saktinya adalah “spark joy”, alias membuat bahagia. Dan siapa pun yang mengenal saya tentu tau bahwa bahagia adalah salah satu filosofi hidup saya. Tapi sampai 6 bulan yang lalu, saya masih terlalu takut untuk membaca buku itu. Takut terlalu menggebu-gebu dan tidak bisa fokus mengerjakan yang lain. Untuk buku yang seperti ini, saya selalu menunggu momen yang pas. Karena, setiap buku yang spesial perlu waktu khusus dan persiapan energi yang cukup banyak untuk meresapi maknanya. Waktunya datang di bulan September, ketika saya memutuskan untuk rehat dari dunia pekerjaan. Coba-coba ini ternyata berakhir dengan menjadi pengikut taat.

Read the rest of this entry

Bayangmu

Standard

Mungkin. Yang aku cintai adalah bayangmu. Ketika kamu satu dengan bayangan itu, bertahun-tahun lalu.

Lalu pada suatu saat, ketika kamu melangkah, bayangmu tertinggal. Kamu pergi tanpa bayangmu. Ia berdiam sendirinya di kelam malam.

Dan dialah yang aku lihat. Dan aku sayangi. Dan kepada siapa aku pupuk cintaku.

Karena itu, aku terluka. Retak. Berhamburan. Ketika ia bergeming. Layu. Hitam. Suram.

Lama aku bertanya. Apa salahku? Kenapa kau tak menoleh? Seolah buta dan bisu? Tak melihatku yang luka. Yang marah. Yang sepi?

Mungkin. Karena ia adalah bayangmu. Bukan dirimu. Dirimu sudah jauh entah dimana. Tak mampu aku ikuti. Tak mampu mengikuti aku.

Kita jauh. Tak mampu menggapai satu sama lain. Kita pecah. Di tengah diam dan air mata.

#Home/Singapore

Romansa

Standard

Saya. Belum pernah ke Paris. Belum pernah ke Sydney. Belum pernah ke Venesia. Tiga kota paling romantis di dunia menurut hasil pencarian di om gugel. Dari 25 kota dalam daftar itu, saya ‘hanya’ pernah ke 2 kota, Kyoto dan Praha. Jadi, apa yang orang-orang gambarkan sebagai romantis, lansekap kota yang indah, bunga-bunga cantik dan alunan musik yang memenuhi sudut-sudut kota, para pelancong yang sedang berbulan madu, saya meraba-raba dalam gelap.

Mungkin. Hanya mungkin. Apa yang saya bayangkan agak mendekati aslinya. Mungkin. Langit Venesia serupa dengan langit ungu bercampur oranye saat matahari terbenam di Seattle. Langit terindah yang pernah saya lihat seumur hidup. Mungkin. Sudut-sudut area tepi laut Sydney sedikit mirip dengan sudut-sudut area tepi laut Singapura. Dengan bangunan-bangunan cantik menghadap laut dan jembatan-jembatan penghubung daratan membawa para komuter dari satu tempat ke tempat lain. Tempat favorit saya untuk berpura-pura menjadi turis di tempat tinggal sendiri. Mungkin. Kafe-kafe kecil di Paris dengan aroma roti yang baru keluar dari oven, suara orang berbincang dalam bahasa yang asing di telinga, dan hiburan ‘gratis’ dari artis-artis jalanan sedikit mirip dengan kafe-kafe kecil tersembunyi di pinggiran kota tua Talinn. Tempat saya pertama kali menemukan banyak sisi yang bersembunyi di dalam diri sendiri. Mungkin.

Romansa. Ada di mana saja. Di sofa sebuah kafe buku di River Valley. Di bangku kompleks hawker di stasiun Segar. Di kursi tempat kerja saya dan dia di dalam rumah. Romansa ada di dalam imajinasi.

#Home/Singapore

Publikasi (2010): Surabaya’s Context of Community Involvement in Solid Waste Management

Standard

Publikasi keempat dalam hidup postgrad gw, adalah kembali ke konferens pertama terkait sampah yang pernah diikuti yaitu Japan Society of Material Cycle and Waste Management Experts. Konferens yang ke-21 kali ini bertempat di Kanazawa, Ishikawa Prefecture.

Kalo di konferens sebelumnya gw ngambil studi kasus di kota Jakarta, skarang ngambil studi kasus kota Surabaya yang pada saat itu adalah kota yang paling maju dalam hal manajemen persampahan berbasis masyarakat di Indonesia. Sayangnya karna jadwal konferens bertepatan dengan jadwal survey di mana gw udah terlanjur beli tiket pulang, gw ga bisa dateng dan presentasi. Alhasil si babeh 2 yang presentasi sementara posternya gw titip ke temen lab yang juga ikutan konferens itu. Ehm, tepatnya posternya gw kirim ke panitia konferens dan minta temen gw masang sih. Sedih siihh gak bisa ke Kanazawa, it’s one of the most memorable places I’ve ever been to in Japan. Kapan2 deh sharing2 tentang travel di sana. Tapi eniweiiii, apa boleh buat, kudu balik.

Read the rest of this entry

Publikasi (2010): Examining Replication Effort …

Standard

Postingan ketiga berisi publikasi riset. Kali ini buat konferens regional di Taiwan. Sebenernya peserta konferens ini harusnya adalah pakar2 di bidang manajemen persampahan di mana si babeh 2 adalah salah satu anggotanya. Pas doi nyuruh ikutan, gwnya agak males2an gitu. Ya, mau sih, tapi babeh yang presentasi yaa. Kata doi, ya udah masukin poster aja deh, gak usah yang oral. Ya udah, jadilah gw daftar yang poster.

Read the rest of this entry

Maraton Naruto Shippuuden

Standard

Jadi berapa hari lalu gw lagi kebosenan nonton tv, terus memutuskan untuk cari tontonan streaming. Baru inget kalo udah lama nih gak nonton Naruto Sippuuden, langsung buka laman streaming anime Jepun favorit. Pas ngeliat, wadahh, udah episod 300-an aja. Hmm, kayanya saat yang bagus nih buat nonton ulang. Critanya biar jadi pengisi waktu kalo bosen gitu.

Ternyata… salah besar. Yang ada, gw kecanduan.

Read the rest of this entry